Senin, 04 Mei 2020

STAI Bumi Silampari adakan silaturahim dengan Sekretariat DPRD Kabupaten Musi Rawas Utara



Muratara, 4 Mei 2020
Ketua STAI Bumi Silampari Lubuklinggau, Ngimadudin, S.Ag., MH., didampingi Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa (PMB) STAI Bumi Silampari, Supriadi, MM mengadakan silaturahim ke sekretariat DPRD Kabupaten Musi Rawas Utara yang ditemui langsung oleh Sekretaris DPRD Musi Rawas Utara Drs.H.Saidi, SH,MM
serta turut hadir Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Muratara,
Hermansyah Samsiar, M.Pd.I

Dalam silaturahim, Ketua STAI Bumi Silampari menyampaikan tentang bahwa saat ini STAI Bumi Silampari Lubuklinggau memiliki program studi baru Hukum Tata Negara yang nantinya lulusan akan mendapatkan gelar SH (Sarjana Hukum), selain sudah ada Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan gelar SPd (Sarjana Pendidikan) dan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan gelar S.Sos.

Sekretaris Dewan DPRD Musi Rawas Utara, Drs.H.Saidi, SH.MM menyambut baik silaturahim yang dilakukan, bahkan beliau mengharapkan hal harus sering dilakukan, karena akademisi bisa memberikan support moral terhadap lembaga ini termasuk Sekretaris Dewan untuk menjalani aspirasi rakyat sehingga masyarakat terasa betul apa yang menjadi harapan masyarakat disinilah peran sekwan sangat strategis menjembatani legislatif terhadap exekutip dalam pembangunan Muratara, dengan slogan muratara bangkit segera terwujud (Red).

KRITIK MEMBANGUN VERSUS KRITIK MENJATUHKAN DI TENGAH KRISIS APRESIASI POSITIF



Opini Oleh Hermansyah Samsiar, M.Pd.I
(Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Muratara / Politisi PKS)
-----------------------------------------------------------------
Saat ini masyarakat kita sedang krisis apresiasi apalagi menjelang PILKADA 2020 di masing masing Daerah. Terlalu rajin mengkritik tapi juga terlalu malas mengapresiasi. Kritik akan adil jika disertai dengan apresiasi. Tapi apa?...Kebanyakan masyarakat kita tidak  adil terkait aktivitas mengapresiasi.
Saya teringat dulu ketika masi santri di pesantren ada pelajaran mahfuzhot ( Nushus ) namanya, kala itu sempat membaca pelajaran kakak kelas lalu saya mencatat di agenda. Kutipan syair Imam syafi’ie “‘Ainurridho Versus ‘Ainussukhti”  sebagaimana berikut;
وعينُ الرِّضا عن كلَّ عيبٍ كليلة ٌ
وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي المَسَاوِيَا
Artinya : 
 “ Mata dengan cinta akan  meremehkan segala cela - Sedang mata benci  kan memandang semua sama, tak ada yang istimewa “

Terlalu cinta dikarenakan dekat dan ada hubungan personal atau syarat dengan kepentingan pragmatisme akan meremehkan segala cela kekurangan dan dibelah membabi buta dan siapa yang mengkritisi sang pembelah akan memasang badan lalu siapa yang mengapresiasi walaupun sang munapiq akan dirangkul. Sementara pandangan kebencian “‘Ainussukhti” apapun yang dilakukan dan terus berkarya tidak akan diapresiasi positif semua sama tidak ada yang istimewa sembari mengintip cela kekuranganya. Inilah namanya pandangan yang jauh dari konsep keadilan dan menjunjung tinggi Persatuan Indonesia dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai mana nilai Pancasila. Adil dalam bersikap Apresiasif itu juga bagian dari ketaqwaan dan perbuatan yang diridhoi oleh Allah;
             Firman Allah surat almaidah ayat 8 :
                 “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong   kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.
Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan  sehari hari, pasti tidak lepas dari kritikan. Apalagi dia sebagai ledear (Pemimpin) pemangku kebijakan atau tokoh politik. Memberi kritik bukan perkara sulit, namun menerimanya tentu bisa menjadi hal yang sagat berat dan Nerve Werking. Namun hal ini tergantung persfektif  sipenerima kritik dalam menelan kritik tersebut.
Apalagi zaman sekarang, terjadi paradoks  di lapangan era medsos yang tak terkontrol semakin ringan lidah dan jemari tangannya bermodal IPAD untuk mengkritik. Entah tahu topik yang dikritik atau tidak, intinya kasih kritik aja dulu, tau topiknya belakangan. Walaupun terjebak kepada hoaxs dan Fitnah. Ditambah lagi dengan sebagian media online atau media  cetak yang tidak professional hingga menjadi liar, belum lagi akun hantu (akun bodong+ para buzzer)
Pada dasarnya kritik boleh-boleh saja ketika kalian merasa tidak suka dengan si oknum A, pejabat  B, Politisi C, dan seterusnya. Tapi ingat, yang perlu digaris bawahi berikan kritik yang membangun, bukan kritik yang menjatuhkan.
Jika kalian adalah orang yang bijak. Sertakan apresiasi di dalam kritik konstruktif yang kalian berikan. Setidaknya itu bisa mengikis budaya rajin mengkritik tapi malas mengapresiasi yang mulai merajalela di masyarakat kita.
Ketika membahas pemerintahan, saya yakin bahas apa pun yang berkaitan dengan pemerintah, hasilnya kebanyakan kritik daripada apresiasi. Ketika membahas pendidikan, yang ada cuma polemik yang ujungnya sama, kritik. Membahas agama, walau terkesan topik sensitif. Hasilnya sama saja, tetap ada yang melakukan kritik.
 Kalau begitu berhenti mengkritik, kalau berhenti maka subtansi demokrasi dan cita cita reformasi kita mati tidak berkembang dan tersumbat. Kritik merupakan Social Control. Tentu itulah yang disebut dengan kritik membangaun bukan kritik menjatuhkan dan keluar dari reel moralitas ( masa bodoh orang itu hina bina dan jatuh  tersungkur karena kritiknya yang jauh dari apresiasi dan berujung kepada fitnah…… ini gaya Komunisme yang ideologinya tidak layak hidup di Indonesia).
Apakah yang Membedakan Kritik yang Membangun dengan Kritik yang Menjatuhkan?
1. Kritik yang membangun sangat mendetail dan spesifik ( dalam istilah Qoidah Piqh disebut Naqd atau secara luqhowi islahul Akhto’), terkesan objektif, solutif dengan tegas dan lugas dalam penyampaian dan materi yang disampaikan tercermin capasitas intlektualnya.
2. sedangkan kritik yang menjatuhkan sangat umum dan absurd (Konyol), terkesan subjektif, tidak solutif, selalu menjatuhkan membuat merasa tak berguna. Dan muatan penyampaian ujungnya terlihat penampilan kosong dan tidak berkapasitas dan dominan pandangan “ ‘Ainussukhthi”.
Disinilah Pemuda atau aktivis ( sebagai Agen of Change social control) harus hadir menunjukkan jati diri dalam kritik membangun bukan justru terpolarisasi.  Hadir dengan Kritik konstruktif adalah kritik positif yang mengakui bagian yang benar dari yang dikritik sambil menunjukkan sisi kesalahan konsep dan faktual dengan argumen yang meyakinkan. Atau menawarkan jalan alternatif yang akan memperbaiki atau mempercepat pencapaian sasaran.