Minggu, 19 April 2020

Berusaha _Puisi


Oleh: Alzena Savaira Salimah Kelas VIII A
SMP Ar-Risalah Lubuklinggau


Semua Ini Tidaklah Sia-Sia,
Dengan Berusaha, Ku Yakin Aku Bisa,
Tidak Peduli Sebanyak Apa Keringat Yang Akan Aku Kerahkan,
Tidak Peduli Dengan Semua Cercaan Orang,
Yang Penting, Aku Percaya,

Berusaha Membanggakan Orang Tua,
Berusaha Membahagiakan Orang Tua,
Berusaha Menggapai Cita-Cita,
Berusaha Melakukan Apa Saja,
Yang Terpenting, Aku Bisa Melakukanya,
Dengan Berusaha,
Kuyakin Aku Bisa.

EGO-KU

EGO-KU

Cerita Pendek (Cerpen) Oleh Alzena  Savaira Salimah
Kelas VIII A
SMP Ar-Risalah Lubuklinggau


………………
Rabu, 06.00
“ Rey….. bangun nak,” Ujar Bunda Kepadaku.
“Apa sih Bun? Lagi enak tidur juga” balasku pada Bunda.
“ Nanti Kamu kesiangan saying. Mandi, Sarapan, habis itu berangkat sekolah sana naik sepeda”, Ujar Bunda dengan panjang lebar.
“Sepeda lagi, sepeda lagi. Kapan naik mobilnya! Malu sama teman-teman yang lain!!!’ gerutuku kesal sambil meninggalkan kamar.
Dari apa yang kulakukan, bunda hanya bisa bersabar dan menahan amarahnya kepadaku, itu terlihat dari wajah bunda yang cantik menjadi warna kemerahan.
Saat sampai di Sekolah….
“Reyhana ! sudah Ibu bilang jangan tidur. Keluar sana !!!!” amarah Bu guru kepadaku.
“Ya Bu” jawabku spontan sambil meninggalkan kelas.

Beberapa bulan kemudian ……
‘Akhirnya lulus juga”, ujarku lega.
“Eh Rey, Kamu nanti SMP dimana?”, Tanya salah seorang temanku.
“nggak tahu”, jawabku santai.

Di rumah …
“Bun, aku SMP, Bunda daftarin kemana?”, tanyaku.
“Bunda masukkin kamu ke Pondok Pesantren Nur Hidayah”, Kata Bunda.
“apaan sih Bun, masukin aku ke Pondok segala.  Aku ini sudah pinter , ngak perlu lagi belajar”, ujarku menggerutu kesal.
“kamu akan tahu nanti, nak”, ujar Bundaku.
Beberapa minggu kemudian, aku pun pergi ke Pondok Pesantren. Setelah sampai, Bunda langsung menciumku dan mengatakan…. ‘semoga kamu jadi lebih baik ya nak….”.
Minggu pertama di Pondok, aku termasuk anak yang sangat nakal di Pondok. Sampai suatu hari aku dipanggil secara khusus oleh ustadzah.
“afwan ustadzah, kalau boleh tahu, kenama aku dipanggil kesini?, ujarku gugup.
“Reyhana, bundamu sudah menceritakan semuanya tentang kamu ke ustadzah. Ustadzah hanya ingin memberikan saran …….”, ujar ustadzah panjang lebar.
Setelah ustadzah berbicara seperti itu padaku, aku baru sadar bahwa berbakti kepada orang tua itu tidaklah sulit. Aku mendapat hidayah.
Hu, aku pun dengan tegas berkata:
“Ustadzah, mulai hari ini, Aku Reyhana Putri Satu-satunya akan berbakti pada orang tua bagaimana pun caranya”.
Alhasil, bunda dan ustadzah pun senang padaku. Alhamdulillah…

Kamis, 02 April 2020

Kuliah Online khas STAI Bumi Silampari Lubuklinggau

Lubuklinggau, 2 April 2020


Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuklinggau melakukan berbagai upaya dan innovasi dalam hal pendidikan dan pengajaran, terutama dalam masa pencegahan penyebaran Covid-19. Salah satunya adalah dengan melakukan kuliah online. Kuliah dengan menggunakan perangkat lunak dan sesuai dengan waktu perkuliahan.

Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Nurlila Kamsi, M.Pd mengatakan bahwa pembelajaran online cukup membantu dosen dalam melaksanakan tugas pembelajaran di tengah kasus covid-19. yang membuat perkuliahan tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka. Sementara proses pembelajaran harus tetap berlanjut agar tidak ada pihak yang dirugikan. Untuk mahasiswa sama seperti halnya dosen, bisa mempermudah mahasiswa mengikuti perkuliahan tanpa harus ke kampus dan mengajarkan mahasiswa untuk memanfaatkan tehnologi dalam proses pembelajaran, akan tetapi pada sisi lain memiliki kelemahan yang sangat berdampak pada mahasiswa itu sendiri terutama untuk mahasiswa yang tinggal di pedesaan terkendala oleh sinyal internet yang terbatas dan dampak ekonomi dari covid-19 membuat kesulitan bagi orang tua untuk memberikan paket kuota untuk anak mereka. Tentu saja, kita berharap ini dapat menjadi perhatian bagi pemerintah akan pentingnya penyebaran internet/sarana komunikasi ke daerah-daerah pelosok secara merata (termasuk dalam hal penyediaan internet gratis untuk masyarakat desa). Ini semua tentunya dalam mewujudkan masyarakat yang berkemajuan.



Salah seorang dosen pengampu mata kuliah, Pasiska, MA mengatakan bahwa kita harus tetap produktif untuk mengisi waktu dengan literasi dan diskusi menggunakan tehnologi yang ada, sehingga etos kerja kita tetap tinggi. Hal ini mengingat belajar dan mengajar adalah jihad kita, dengan kata lain kreatifitas kita seharusnya bertambah, keinginan belajar harus lebih kuat sehingga pada saatnya kita akan mendapatkan ibroh dari semua kejadian yang ada.